14 Mei 2009

SEJARAH

Sejarah Huruf Jawa, Hanacaraka

HANACARAKA, salah satu bentuk perkembangan tulisan Jawa yang terdiri atas 20 huruf. Menurut para ahli epigrafi, tulisan Jawa berasal dari suatu bentuk tulisan sansekerta Dewanagari dari India Selatan, yang terdapat pada prasasti-prasasti dari zaman dinasti Palawa yang menguasai daerah pantai India Selatan pada abad ke-4.

Demikian, tulisan itu juga di sebut tulisan Palawa. Tetapi dalam jangka waktu berabad-abad tulisan itu telah mengalami perubahan. Prasasti Jawa tertua memang menggunakan tulisan Palawa ini, sehingga huruf yang digunakan para pujangga Jawa Timur dari abad ke-10 hingga 11 dalam ciptaan-ciptaan kakawihan mereka sudah mempunyai ciri khas Jawa.

Sepanjang sejarah kesusasteraan Jawa yang panjang itu, orang Jawa telah mengenal berbagai tulisan asli. Ada suatu legenda mengenai asal mula penduduk Jawa yang tertua, dan mengenai masuknya kebudayaan Jawa di pulau Jawa.

Hal itu sekaligus juga menerangkan bahwa penggunaan tulisan Jawa merupakan unsur penting dari kebudayaan itu.Legenda tersebut menceritakan kisah Pangeran Ajisaka yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dari Mekah yang berkelana melalui berbagai negara untuk membawa peradaban kepada umat manusia. Melalui Srilanka, Pantai India Selatan, Sokadana (kemungkinan yang dimaksudkan adalah pulau Sumatera), akhirnya Pangeran Ajisaka tiba di Jawa, yang pada waktu itu merupakan tempat tinggal para raksasa dengan rajanya yang bernama Dewata Cengker.

Dalam perjalanan menjelajahi Nusa Jawa, Pangeran Ajisaka menemukan dua tubuh raksasa yang telah mati. Di tangan kedua raksasa tergenggam masing-masing sehelai daun. Di atas kedua daun tersebut terdapat masing-masing tulisan purwa (kuno) dan tulisan Thai.

Oleh Pangeran Ajisaka kedua tulisan tersebut disatukan, dan dengan demikian ia menciptakan abjad Jawa yang terdiri atas 20 huruf, yang jika dirangkai membentuk suatu kalimat yang berbunyi: ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga. Arti kalimat tersebut adalah, ”Ada dua orang utusan yang saling bertengkar, keduanya sama kuat dan karena itu kedua-duanya mati”.

Legenda itu antara lain ditulis dalam sebuah buku Jawa yang berisikan sejarah mitologi Pulau Jawa hingga berdirinya Kerajaan Majapahit, kemudian harus mengalami perubahan huruf Jawa yang diajarkan di sekolah di Jawa Tengah dan Jawa Timur sekarang ini adalah yang dipakai dalam karya-karya kesusastraan zaman Mataram dari Abad ke-18 dan 19.

Huruf Jawa Mataram ini agaknya menjadi mantap setelah diciptakan mesin cetak dengan huruf Jawa yang dipakai oleh para penerbit Belanda, awal abad ke-19, dan terbitnya surat kabar berbahasa Jawa yang pertama, yaitu Armartani, 1878.Ada juga buku kesusastraan Jawa yang ditulis dengan tulisan pegon atau gundhil, yaitu tulisan Arab yang disesuaikan dengan keperluan bahasa Jawa. Penggunaan huruf ini terutama untuk kesusastraan Jawa yang bersifat keagamaan Islam, dan tidak pernah digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari.

Hanacaraka tidak hanya dikenal oleh orang Jawa, melainkan juga oleh orang Sunda dan Bali, sebagai dampak pengaruh kekuasaan Kerajaan Jawa pada masa lampau. Dari sumber tertulis dari naskah-naskah Sunda lama, disebutkan bahwa Orang Sunda juga semula mempunyai huruf Sunda.

Namun dalam perkembangan selanjutnya, naskah-naskah Sunda tidak lagi ditulis dengan huruf Sunda melainkan dengan huruf Pegon atau huruf Jawa.(Silmy/diambil dari Ensiklopedia Indonesia)***

ISTILAH SASTRA JAWA

ISTILAH-ISTILAH DALAM SASTRA JAWA

  • babad: sastra sejarah dalam tradisi sastra Jawa; digunakan untuk pengertian yang sama dalam tradisi sastra Madura dan Bali; istilah ini berpadanan dengan carita, sajarah [Sunda], hikayat, silsilah, sejarah [Sumatera, Kalimantan, dan Malaysia]
  • bebasan: ungkapan yang memiliki makna kias dan mengandung perumpamaan pada keadaan yang dikiaskan, misalnya nabok nyilih tangan.
  • gancaran: wacana berbentuk prosa.
  • gatra: satuan baris, terutama untuk puisi tradisional.
  • gatra purwaka: bagian puisi tradisional [parikan dan wangsalan] yang merupakan isi atau inti.
  • guru gatra: aturan jumlah baris tiap bait dalam puisi tradisional Jawa [tembang macapat].
  • guru lagu: [disebut juga dhong-dhing] aturan rima akhir pada puisi tradisional Jawa.
  • guru wilangan: aturan jumlah suku kata tiap bait dalam puisi tradisional Jawa.
  • janturan: kisahan yang disampaikan dalang dalam pergelaran wayang untuk memaparkan tokoh atau situasi adegan.
  • japa mantra: mantra, kata yang mempunyai kekuatan gaib berupa pengharapan.
  • kagunan basa: penggunaan kata atau unsur bahasa yang menimbulkan makna konotatif; ada berbagai macam kagunan basa, antara lain tembung entar, paribasan, bebasan, saloka, isbat, dan panyandra.
  • kakawin: puisi berbahasa Jawa kuno yang merupakan adaptasi kawyra dari India; salah satu unsur pentingnya adalah suku kata panjang dan suku kata pendek [guru dan laghu].
  • kidung: puisi berbahasa Jawa tengahan yang memiliki aturan jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata tiap baris, dan pola rima akhir sesuai dengan jenis metrum yang membingkainya; satu pupuh kidung berkemungkinan terdapat lebih dari satu pola metrum.
  • macapat: puisi berbahasa Jawa baru yang memperhitungkan jumlah baris untuk tiap bait, jumlah suku kata tiap baris, dan vokal akhir baris; baik jumlah suku kata maupun vokal akhir tergantung atas kedudukan baris bersangkutan pada pola metrum yang digunakan; di samping itu pembacaannya pun menggunakan pola susunan nada yang didasarkan pada nada gamelan; secara tradisional terdapat 15 pola metrum macapat, yakni dhandhang gula, sinom, asmaradana, durma, pangkur, mijil, kinanthi, maskumambang, pucung, jurudemung, wirangrong, balabak, gambuh, megatruh, dan girisa.
  • manggala: "kata pengantar" yang terdapat di bagian awal keseluruhan teks; dalam tradisi sastra Jawa kuno biasanya berisi penyebutan dewa yang menjadi pujaan penyair (isthadewata), raja yang berkuasa atau yang memerintahkan penulisan, serta--meskipun tak selalu ada--penanggalan saat penulisan dan nama penyair; istilah manggala kemudian dipergunakan pula dalam penelitian teks-teks sastra Jawa baru.
  • pada: bait
  • parikan: puisi tradisional Jawa yang memiliki gatra purwaka (sampiran) dan gatra tebusan (isi); pantun [Melayu].
  • parikan lamba: parikan yang hanya mempunyai masing-masing dua baris gatra purwaka dan gatra tebusan.
  • parikan rangkep: parikan yang mempunyai masing-masing dua baris gatra purwaka dan gatra tebusan.
  • pepali: kata atau suara yang merupakan larangan untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu, misalnya aja turu wanci surup.
  • pupuh: bagian dari wacana puisi dan dapat disamakan dengan bab dalam wacana berbentuk prosa.
  • panambang: sufiks/akhiran
  • panwacara: satuan waktu yang memiliki daur lima hari: Jenar (Pahing), Palguna (Pon), Cemengan (Wage), Kasih (Kliwon), dan Manis (Legi).
  • Paribasan: ungkapan yang memiliki makna kias namun tidak mengandung perumpamaan, misalnya dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan.
  • pegon: aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa.
  • pujangga: orang yang ahli dalam menciptakan teks sastra; dalam tradisi sastra Jawa; mereka yang berhak memperoleh gelar pujangga adalah sastrawan yang menguasai paramasastra (ahli dalam sastra dan tata bahasa), parama kawi (mahir dalam menggunakan bahasa kawi), mardi basa (ahli memainkan kata-kata), mardawa lagu (mahir dalam seni suara dan tembang), awicara (pandai berbicara, bercerita, dan mengarang), mandraguna (memiliki pengetahuan mengenai hal yang 'kasar' dan 'halus'), nawung kridha (memiliki pengetahuan lahir batin, arif bijaksana, dan waskitha), juga sambegana (memiliki daya ingatan yang kuat dan tajam).
  • saloka: ungkapan yang memiliki makna kiasan dan mengandung perumpamaan pada subyek yang dikiaskan, misalnya kebo nusu gudel.
  • saptawara: satuan waktu yang memiliki daur tujuh hari: Radite (Ngahad), Soma (Senen), Buda (Rebo), Respati (Kemis), Sukra (Jumuwah), dan Tumpak (Setu).
  • sasmitaning tembang: isyarat mengenai pola metrum atau tembang; dapat muncul pada awal pupuh (isyarat pola metrum yang digunakan pada pupuh bersangkutan) tetapi dapatpula muncul di akhir pupuh (isyarat pola metrum yang digunakan pada pupuh berikutnya.
  • sastra gagrak anyar: sastra Jawa modern, ditandai dengan tiadanya aturan-aturan mengenai metrum dan perangkat-perangkat kesastraan tradisional lainnya.
  • sastra gagrak lawas: sastra Jawa modern, ditandai dengan aturan-aturan ketat seperti--terutama--pembaitan secara ketat.
  • sastra wulang: jenis sastra yang berisi ajaran, terutama moral.
  • sengkalan: kronogram atau wacana yang menunjukkan lambang angka tahun, baik dalam wujud kata maupun gambar atau seni rupa lainnya yang memiliki ekuivalen dengan angka secara konvensional.
  • singir: syair dalam tradisi sastra Jawa.
  • sot: kata atau suara yang mempunyai kekuatan mendatangkan bencana bagi yang memperolehnya.
  • suluk: [1] jenis wacana (sastra) pesantren dan pesisiran yang berisi ajaran-ajaran gaib yang bersumberpada ajaran Islam; [2] wacana yang 'dinyanyikan' oleh dalang dalam pergelaran wayang untuk menciptakan 'suasana' tertentu sesuai dengan situasi adegan.
  • supata: kata atau suara yang 'menetapkan kebenaran' dengan bersumpah.
  • tembung entar: kata kiasan, misalnya kuping wajan.
  • wangsit: disebut juga wisik, kata atau suara yang diberikan oleh makhluk gaib, biasanya berupa petunjuk atau nasihat.
  • wayang purwa: cerita wayang atau pergelaran wayang yang menggunakan lakon bersumber pada cerita Mahabharata dan Ramayana.
  • weca: kata atau suara yang mempunyai kekuatan untuk melihat kejadian di masa mendatang.
  • wirid: jenis wacana (sastra) pesantren yang berkaitan dengan tasawuf.

13 Mei 2009